MENGENANG MASA KECIL KOES BERSAUDARA

Saya Koesdjono alias John Koeswoyo , merasa mampu berbuat sesuatu untuk masyarakat . Orang boleh tidak percaya , tapi saya pribadipun mengalami hal yang menyebalkan sepanjang pengalaman hidup saya mulai sejak umur Tiga Tahun . Siapa manusia yang tak pernah merasa sebal dengan dirinya sendiri ? Hidup tak selalu indah , bukan ? Atau hidup ini teramat Indah di mana letak keindahan hidup itu ? Di Telaga Sunyi Di Pagi Yang Indah Sekali ?

    Seni musik Indonesia dewasa ini sedangkuat berkembang . Terutama di bidang Lagu-lagu hiburan yang pop . Semua adikku yang Laki-laki : Ton , Nomo , Yon Dan Yok , Sedang “Kiprah” , berkecimpung dalam dunianya: Dunia musik yang gemerlapan , penuh pujian dan seakan tak pernah bebas dari kegembiraan hati . Bernyanyi , bernyanyi , Mereka bernyanyi setiap saat: Di radio , Di televisi , Di panggung delapan penjuru Kota Negri ini , Sampai Ke Timor Portugis . Bernyanyi untuk masyarakat dan untuk diri mereka sendiri . Dan , Anda ingin tahu perjalanan nasib Tokoh Tokoh musik pop Indonesia Itu ? Marilah saya ceritakan . secara sederhana , Gamblang dan apa adanya . Untuk saya pribadi , Menceritakan Kisah Koeswoyo Bersaudara tak berarti apa-apa , Selain bahwa saya ingin berbuat suatu itu , Sesuatu yang selalu menyentak kalbu saya . Tahukah? Saya ingin pula menjunjung nama Koeswoyo namun saya tak ingin berlindung di bawah payung populatiras adik-adik saya yang hebat itu. Saya , John Koeswoyo, Ingin menjadi seorang Koeswoyo yang mandiri, Yang pada saat orang menyebut nama saya tidak lagi di embeli-embeli Kalimat: “Ooh, Itu John , Kakak Tony , Nomo , Yon Dan Yok Yang Terkenal:   !”.  Saya ingin orang menyebut saya: “Oh, itu Jhon Koeswoyo”. Ketika Teguh Esa selalu mendesak agar saya segera mulai mengusir rasa malas , Maka saya tahu bahwa saya harus mulai. Atau saya akan hilang di makan angin , Seperti kata teguh Esa Yng Energik itu .
    Band Koes Bersaudara yang asli terdiri dari 5 (Lima) orang anak lelaki Pak Koeswoyo Mereka Adalah Jhon Pada Bass Gitar , Ton pada melodi gitar , Nomo pada drums , Yon dan Yok berduet menyanyi sambil main gitar pengiring .
    Sejak Tahun 1964 saya meninggalkan band Koes Bersaudara, Pulang ke Tuban, bertualang sebagai Nelayan di Kampung Halaman . Lalu kembali ke Jakarta, Jadi mandor bangunan, Juru tulis pada sebuah perusahaan Negri, Lalu macam-macam, Akhirnya semi-pengangguran alias tak punya pekerjaan tetap yang Terhormat. Saya telah lelah bertualang , Terlalu lelah bekerja dibawah Komando orang lain. Saya ingin, ingin selalu berdikari, Dengan harta cukup untuk biaya keluarga sehari-hari, terutama untuk biaya sekolah anak-anak yang saya cintai. Betapapun manisnya, betapapun enaknya, Tak pernah puas menjadi semacam parasit bagi orang lain, Walaupun saudara kandung sendiri. Ton, Nomo, Yon dan Yok sangat banyak dan sering Men-drop uang dan materi untuk saya dan keluarga, Sumbangan yang tulus itu sampai kapanpun akan saya paku di dalam hati saya, Dan saya yakin bahwa paku itu tak akan pernah berkarat. Terimakasih saya pada adik-adik itu tak dapat saya ungkapkan seluruhnya dengan kata-kata. Saya terharu, saya menangis keanehan diri saya. Tapi baiklah. Tangisan yang berlarut-larut akan semakin membuat saya gila. Saya harus selalu berbuat sesuatu yang bermanfaat. Jika dimusik saya kepentok oleh tembok tembok reputasi adaik-adikku itu, di bidang lain saya harus bangkit. Bukan sembarang bidang, tapi saya tetap ingin dalam lingkungan seni, seni sastra. All the beginnings are difficult, Mas Jhon , tapi kamu harus, harus, harus! Atau kamu akan hilang sia-sia dimakan umur, ditiup angin kehidupan yang tak pernah kompromi dengan ratap-tangis, demikian cambukan kata Teguh Esha yang mendera saya setiap saat. Oh, anak muda itu, kata katanya keras dan “kejam” , tapi itikadnya mulia. Dia tahu penderitaan kalbu saya, dia tahu peta kehidupan keluarga kami, dan dia menjadi penyangga mental saya yang nyaris ambruk. Sebagai sahabat dialah yang sejati bagi keluarga kami. Diluar pekarangan dia memuji tapi ketika berkumpul dia memberondongkan perkataan “sadis” dan “kejam” untuk perbaikan prestasi kamu bersaudara. Ketika Yon tak mendengarkan “nasehatnya”, dia sikat melalui tulisannya yang menghancurkan di Sonata. Sempat Yon marah-marah padanya, tapi akhirnya semuah mengerti kediriannya yang mantap di dalam tubuhnya yang mungil itu. Waduh, saya minta maaf jika saya kehilangan sistimatika dalam mengarang riwayat hidup Koes Bersaudara ini. Harap di maklumi karena saya belom pernah mengarang sepanjang ini. Saya cuma menuruti nasehat Teguh untuk menuliskan apa saja yang ada di dalam hati. Dia memang memberi resep dasar karang mengarang yang agak aneh : “Gebrak dahulu, urusan belakangan”.
  Koes Bersaudara mula mula berkurang dengan satu anggota, tapi masih tetap dengan nama aslinya. Menurut hemat saya seharusnya nama itu sudah berubah menjadi “KOES PLUS”. Nomo copot dan Murry masuk (plus). Kemudian Nomo bikin group band NO KOES bersama : Usman , Sofiyan , Said , Pompi dan Bambang Sampurno Karsono .
   Kedua gerombolan musik pop itu, Koes Plus kedalam pimpinan Tonny Koeswoyo dan No Koes dibawah Nomo Koeswoyo mengarungi angkasa hiburan seperti satelit-satelit dilangit. Sedang saya seperti meluncur kesepian seorang diri di angkasa lain yang dingin dan kelam. Dengan perasaan demikian itu saya ingin kembali memasuki lapisan “atmosfeer” kami sendiri. Sekedar menjadi sebuah cirit bintang, jika tak berhasil menjadi meteor besar Koeswoyo yang menyala-nyala.

   Koeswoyo. Nama itu berasal dari Tuban , Jawa Timur. Tuban merupan kota pelabuhan penting di jaman dulu , di kala Islam mulai mengembangi pulau Jawa. Banyak kiayi Arif lagi bijaksana di Tuban tempo doeloe.
  Tahun 1952, kami hijrah dari Tuban ke Jakarta. Kami tinggal di jalan Mendawai II No.14 Blok C, Kebayoran Baru. Jalan yang bersejarah , tempat lahir Koes Bersaudara Pelukis komik yang kini terkenal sebagai Jan Mintaraga juga bertempat tinggal di jalan itu dirumah Nomer 8 saya pikir, jalan kecil bukan jalan raya besar , sesuai namanya jalan Mendawei III (tiga) ternyata mampu melahirkan seniman pop kelas I (satu) di dunia masing-masing. Koes Bersaudara di musik pop. Jan Mintaraga di komik pop. Jalan yang bersejarah menyimpan banyak kedukaan dan kegembiraan hidup kami.
   Tahun 1967 kami pindah ke jalan Mendawai III ke jalan Sungai pawan ...  juga di lingkungan Blok C , Kebayoran Baru. Tapi sejak 1970 kami pindah ke jalan Haji Nawi, Kompleks Koes Bersaudara, sampai sekarang. Semua anggota Koes Bersaudara tinggal di kompleks itu , lengkap dengan istri dan anak masing-masing. Sayang Ibunya sudah meninggal di ujung tahun1969. Dan Sonya Tulaar, istri Yok juga meninggalkan kami untuk selama-lamanya, di ujung tahun 1973. Mudah-mudahan arwah Ibu dan Sonya ipar kami yang tercinta itu mendapat tempat yang lapang di alam baka. Amien, Ya Rabbial amin .
    Untuk pendahuluan ini ada baiknya saya perkenalkan nama dan urutan Koes Bersaudara yang 9 (Sembilan) orang jumlahnya.
No.1.  Tituk (perempuan), meninggal waktu bayi.
No.2.  John (penulis)
No.3.  Dien (perempuan), modiste “Suzana” di Jalan Raya Kebayoran Baru.
No.4.  Ton alias Tonny Koeswoyo, pemimpin Koes Plus.
No.5.  Nom Alias Nomo Koeswoyo, pemimpin No Koes dan manager pabrik.
No.6.  Yon, anggota Koes Plus, vokalis utama band itu.
No.7.  Yok, idem dito dengan piringan2 emas dan piala2nya.
No.8.  Miyi (perempuan), ibu rumah tangga yang baik dan pemain piano amatir.
No.9.  Ninuk (perempuan), masih sendirian, baru saja datang dari pengembaraan di  Australia. Pemain gitar dan organ yang lumayan.
   Itulah kami bersaudara. Sengaja belum saya sebutkan perihal keluarga masing-masing, karena ada riwayat tersendiri bagi ipar-ipar saya dan keponakan yang jumlahnya cukup banyak itu.
   Sembilan anak Koeswoyo dilahirkan di Tuban, di rumah yang sama, dengan pertolongan ibu bidan yang sama pula. Rumah itu terletak di Soekohardjo Straat No. 44, Tuban. Bidan penolong kami itu bernama Ibu Suncani. Beliau ramah, memiliki suara lembut dan enak di dengarkan. Tapi Ibu bidan yang baik itu telah meninggal dunia kini. Kepadanya, almarhum Ibu Suncani, yang telah menolong kami satu persatu bermunculan di muka bumi, tak lupa kami panjatkan doa ke hadlirat Allah Subhanahu Wa Taala, dengan keyakinan arwah Ibu bidan Suncani memperoleh tempat yang layak di sisinya.
    Untuk Ibu Koeswoyo, Ibu kandung Koes Bersaudara, tak ada kata-kata yang saya rasa cukup untuk menyatakan hormat dan terima kasih sayang seboru langit sedalam lautan pada kami semua, anak-anaknya yang nakal dan Pak Koeswoyo, suaminya yang Ibu cintai. Membuat senang hati beliau dengan cara duniawi sudah tak mungkin lagi bagi kami. Hanya doa yang dapat kami kirimkan kepada Ibu setiap hari Kami yakin Tuhan Allah SWT mendengar doa kami itu.
   Sepeninggal Ibu, ayah membangun sebuak komplex tempat tinggal untuk kami semua. Di sanalah Ayah tinggal, seorang diri di sebuah rumah di bagian pojok komplex Koes Bersaudara. Ukuran rumah Ayah saya kecil, 5 meter kali 9 meter. Di depan rumah di Tanami sepohon belimbing, pohon yang kata Ayah merupakan simbol pribadi orang Jawa.
   Sebuah gitar tua menemaninya. Di rumah kecil itu, di saat malam mengawini sepi, ayah menyentik senar gitar, menciptakan lagu-lagu indah dan komersil untuk Koes Plus maupun No Koes. Keroncong Pertemuan, Layang-layang, Mari Mari Oe berterus terang, Muda-Mudi, dan banyak lagi ciptaan ayah menjadi top hits di masyarakat. Tapi hingga kini belom sekalipun Ayah pernah menerima pala seperti Yok. Mudah-mudahan lain kali dapat.

  Suasana yang mengiringi peristiwa menjelang kelahiran adik-adikku semua, terasa sangat indah. Sedari Ibu perutnya besar dan sore hari Ibu berjalan jalan di perkarangan itu, bau wangi yang menyegarkan dari rumpun melati yang ditanam berbaris di kiri kanan jalan ke luar dari pendopo sampai ke pintu gerbang. Pohon pohon kepel yang berbentuk kerucut, tegak rapi seperti pengawal pengawal yang gagah dan sopan. Daun mudanya bening berwarna merah jambu. Seolah-olah tersenyum manis, menyejukkan hati barang siapa yang memandangnya. Suara bel sado dan derap kudanya di jalan aspal yang licin, menggema, dan tetap kedengaran walupun sudah jauh dari pandangan. Kicau burung di senja hari yang sedang sibuk berebut tempat istirahat di pohon rindang, nyaman di perasaan. Dan . . tak pernah kulupakan bau Enau de Cologne Ibu, sampai Ibu bersalin mengandung lagi, bersalin lagi, dan seterusnya sampai adikku Ninuk yang bungsu. Indah … indaaah, menyenangkan … itulah yang dapat kuingat.
   Berkali-kali saya menyaksikan perkembangan bayi menjadi kanak-kanak, kemudian remaja, lalu menjadi dewasa dan akhirnya tua. Perkembangan paling lucu ialah selagi umur 3 sampai 5 tahun, setelah itu ada bagian-bagian yang menjengkelkan. Bahkan setelah tua banyak bagian bagian yang memuakkan, termasuk diriku sendiri. Tentu saja banyak juga hal menyenangkan, terutama kalau manusia tua yang baik menurut penilaian saya: tidak sombong, penyantun, tidak kikir, tahu diri, cepat maklum tetapi tidak dungu.
   Sekian saja tulisan pendahuluan ini. Untuk selanjutnya saya akan masuki bagian yang lain. Mengenai silsilah keluarga kami, secara ringkas saja. Tapi ada suatu kalimat, sebuah perkataan Ibu yang ingin saya sampaikan pada anda sekalian, terutama kaum lelaki yang sukses dalam kehidupan ini. Kata Ibu: “ Barang siapa mencintai keluarganya, maka masyarakatpun akan cinta kepadanya”. Memang betul. Jika masyarakat mencintai diri kita, apa lagi yang membahagiakan ?
    Untuk mengenang Ibu, ada saya buat sebuah syair sederhana? Saya tahu bahwa syair ini tidak indah, tidak menuruti teori puisi, tapi saya hanya ingin menuliskan bisikan hati saya untuk seorang wanita sejati yang tak dapat saya balas budi dan kasih sayangnya. Inilah syair sederhana itu.
 
UNTUK IBU

Untuk mengenang Engkau aku tak akan
Untuk mengenang Engkau aku tak akan mengada ada.
Sebab orang yang tak tahu akan menangis karena Iba.
Orang yang mengerti akan geli tertawa.

Ibu, aku telah ditakdirkan menjadi anak pertama.
Tapi dalam hidupku telah penuh cacah noda dan dosa.
Karna perempuan dan uang aku lupa.

Di dalam lupa aku mengira aku ini bijaksana
Tingkah lakuku, falsafah kehidupan, benar semata mata.
Tidak, aku tak akan mabok selamanya.

Kini Ayah telah tua
Kami semua telah dewasa, katanya ……..
Siapa seharusnya memaklumi siapa?
Dari dulu kita hidup bersama.
Jalan dari mana mau ke mana ?
Mencapai cita-cita ?
Kebangungan jiwa ?
Kebangunan keluarga ? Kebangunan bangsa.
Ada yang pernah bicara tentang jiwa.
Jika kere kah atau jiwa Raya.
Siapah berjiwa apa ? mengapa ?
Akh, semua dungu …...... Dungu ……… tak tahu suatu apa.
Akhirnya ……… tammat saja di telan masa.
Semua di anggap omong kosong belaka.
Indahnya cintapun sia sia.
Namun aku yakin cinta itu bahagia.
“Cinta kepada sesamanya”.
“Cinta” itu pengorbanan yang rela.
Aku tahu Ibu telah berkorban
Segala-galanya .. ..
Untuk keluarga
Hayo … siapa bilang cinta kepada ibunya ?
Ikuti jejak Ibu demi kebangunan keluarga.

Bangsa yang jaya adalah kumpulan dari
keluarga yang bahagia ?
Adakah ini semacam igauan belaka ?
Ataukah gugurnya buah ranum yang
berisi dosa ?
Sudah . . Sudah …… berkepanjangan …
Mengerti ?
Diam. Tak usah banyak bicara .

No comments: