Uang Tak Dapat Membeli Kebahagiaan


Uang tak dapat membeli kebahagiaan." Banyak orang suka mengutip adagium usang ini, tetapi hanya sedikit orang yang benar-benar meyakininya. Namun, sekarang sebuah penelitian baru oleh ekonom yang dijuluki "ayah dari studi-studi kebahagiaan" telah menemukan bahwa hal ini benar adanya.
Hasil studi Prof Richard Easterlin dari University of Southern California, AS, yang mengambil sampel 37 negara menemukan bahwa peningkatan kebahagiaan tidak berbanding lurus dengan peningkatan kekayaan. Walau studi-studi jangka pendek memperlihatkan adanya hubungan antara keduanya, tidak demikian halnya ketika seseorang memantau negara-negara itu selama beberapa dekade.
Bahkan, dalam perekonomian dunia yang paling sukses selama dua dekade terakhir, hal itu tidak terbukti. Di China, Korea Selatan, dan Cile, yang memiliki pendapatan per kapita dua kali lipat dalam waktu kurang dari 20 tahun, tidak ada kenaikan yang signifikan dalam kebahagiaan pada periode yang sama. Sebaliknya, kebahagiaan tetap datar. Di Korea Selatan "kepuasan hidup" malah sedikit melorot.
Prof Easterlin berkomentar, "Artikel ini menyangkal klaim baru-baru ini bahwa ada hubungan positif jangka panjang antara kebahagiaan dan pendapatan, padahal dalam kenyataannya, hubungan tersebut nihil."
Tahun 1974 ia menerbitkan sebuah makalah berjudul, "Apakah Pertumbuhan Ekonomi Memperbaiki Nasib Manusia? Sejumlah Bukti Empiris". Dalam makalah itu, ia mempertanyakan asumsi tentang hubungan antara kebahagiaan dan pendapatan. Hal tersebut menyajikan sebuah paradoks, yang kemudian dikenal sebagai Paradoks Easterlin.
Ia menjelaskan, "Secara sederhana, paradoks kebahagiaan-pendapatan itu begini: pada suatu titik dalam suatu masa baik di antara dan di dalam negara-negara, kebahagiaan dan pendapatan berkorelasi positif. Namun, seiring berjalannya waktu, kebahagiaan tidak meningkat ketika pendapatan suatu negara meningkat."
Oleh karena itu, sejumlah ekonom kemudian mengajukan bukti bahwa kebahagiaan dalam kenyataannya meningkat dari waktu ke waktu ketika pendapatan naik. Namun, bukti akademik berdasarkan studi terbarunya selama lima tahun, yang memantau negara-negara kaya dan miskin, termasuk negara-negara kapitalis dan bekas komunis, bertentangan dengan penelitian para ekonom itu.
Kesimpulan Prof Easterlin itu muncul pada saat semakin banyak pemerintah yang menjadi kian peduli dengan "kebahagiaan nasional bruto" ketimbang "produk domestik bruto" semata. Penelitiannya itu dipublikasikan minggu ini di jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences.
kompas.com

No comments: