Briptu Norman Pilih Jadi Brimob Daripada Artis

Free Image Hosting at www.ImageShack.us
Denpasar - Briptu Norman Kamaru makin terkenal bak artis setelah tampil di Youtube dengan lagu lip sync 'Chaiyya Chaiyya'. Meskipun laris manis tampil di TV, ia tetap memilih menjadi polisi daripada beralih menjadi artis.

"Saya pilih tetap jadi Brimob daripada artis," kata Briptu Norman usai tampil bersama bintang Opera Van Java (OVJ) di Central Parkir Kuta, Jl Imam Bonjol, Denpasar, Sabtu (9/4/2011).

Briptu Norman tampil bersama Sule cs dan grup band Superman is Dead (SID) dalam acara tapping OVJ road show. Dalam rekaman beralur cerita Nunung yang jatuh cinta dengan rocker dijodohkan dengan Briptu Norman. Polisi yang mendadak terkenal ini menghibur penonton dengan lagu India Chaiyya Chaiyya serta menyanyikan beberapa lagu.

Briptu Norman berasalan tetap mengabdi menjadi Polri meskipun ia jago menyanyi yang kini menjadikannya terkenal. "Saya hanya hobi menyanyi," katanya.

Kehadiran Briptu Norman di OVJ tak jadi didampingi Wakapolri Komjen Pol Nanan Soekarna melainkan Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri Brigjen Polisi I Ketut Untung Yoga dan Komandan Brimob Gorontalo.

Sekilas Sejarah Java Jazz Festival

Jakarta Internasional Java Jazz Festivaladalah Festival Jazz tahunan yang diselenggarakan pada setiap Maret di Jakarta, sejak tahun 2005. Jakarta International Java Jazz Festival tidak hanya menjadi salah satu terbaik di Indonesia jazz festival, tetapi juga salah satu ajang paling bergengsi dan terbesar di dunia.Festival ini awalnya dipelopori oleh seorang penggemar sekaligus pelaku di Industri musik jazz ditanah air,Peter F. Gontha.
Peter adalah salah satu sosok yang membawa Jazz ke Indonesia dan dia adalah pemilik dari Jakarta's top jazz, Jamz di mana seniman-seniman besar eperti Bob James, Lee Ritenour, Chick Corea, Ramsey Lewis, the Rippingtons, Brecker Brothers, George Duke berkumpul dan berekspresi dalam wadah sebuah komunitas Jazz yang hidup dan bernafas untuk jazz.
Dari hal itulah dia mulai untuk termotivasi dan terinspirasi oleh visi bahwa orang-orang dari seluruh dunia dapat bekerja sama dalam damai dan harmonis melalui medium indah musik, dia melihat musik sebagai satu-satunya bahasa internasional, lalu menerobos semua rintangan serta membuka hati dan pikiran mana pun yang terdeng
Dan pastinya jazz lah yang menjadi bahasa yang paling sempurna untuk disuarakan Peter sebagai ungkapan hati dalam berkarya. Maka ide nya untuk mengembangkan dan lebih mempopulerkan musik jazz dalam sebuah konsep festival urban berskala International pun terus bergulir dan diberi label resmi Jakarta International Java Jazz Festival. Jakarta International Java Jazz Festival diproduksi oleh PT. Java Festival Production.

Java Festival Production adalah perusahaan yang bergerak dalam memberikan pelayanan terpadu kelas dunia musik hiburan dan gaya hidup, bekerja sama dengan pemerintah, sektor swasta dan masyarakat, lokal dan internasional, dalam saling menguntungkan dan hubungan berkelanjutan.

Dengan mengusung visi untuk dapat diakui sebagai salah satu penyedia hiburan paling profesional di kawasan dengan program yang paling dikenal karena mutu, inovasi dan dampaknya dalam mempromosikan perdamaian, lintas-budaya sinergi dan pertumbuhan industri musik dan pariwisata.

Ditunjang oleh sumber daya terbaik dalam industri untuk memastikan kualitas penyelenggaraan setiap event tersebut, Java Festival Production sendiri diharapkan memegang nilai-nilai lebih dalam: kualitas, inovasi, pelayanan, komitmen, memberikan solusi terbaik, dan hubungan jangka panjang.
Selain menghadirkan musisi jazz mancanegara maupun dalam negeri, festival ini juga disertai musisi dari genre musik lainnya seperti R&B, soul, reggae. Antara musisi terkemuka yang hadir pada ajang tahun 2006 adalah JamesBrown, Earth, Wind & Fire, Eric Benet, Bubi Chen, dan Angie Stone sementara pada tahun 2007 Sergio Mendes, Chaka Khan, Lisa Ono dan Jamie Cullum adalah antara para musisi yang dijadwalkan tampil. Menurut situs resmi festival ini, lebih dari 67.000 pengunjung menghadiri festival selama tiga hari ini pada tahun 2006.
Dari perjalannya sejak 2005, penyelenggaraan event tersebut selalu dipusatkan di Jakarta Convention Center (JCC), namun pada pagelaran tahun 2010 kali ini penyelenggaraan event ini akan mengalami sedikit perubahan, yaitu pemindahan tempat penyelenggaraan karena dengan alasan daya tampung yang tidak memadai dan demi menciptakan kenyamanan bagi penikmatnya, tempat pertunjukan pun akhirnya dipindah ke JI Expo Kemayoran.
Hal itu harus dilakukan karena, menurut dia, setiap tahun penonton terus meningkat. Pada penyelenggaraan pada 2009, setiap hari rata-rata 30.000 penonton memadati arena pertunjukkan.
Pada penyelenggaraan tahun ini, jumlah penonton diperkirakan semakin besar. Apalagi,imbuh dia, harga tiket diturunkan hingga kisaran Rp100 ribu/hari, di luar tiket pertunjukan khusus untuk musisi istimewa.

Selain itu, keberadaan Java Jazz 2010 semakin meneguhkan posisi Indonesia sebagai salah satu penyelenggara festival jazz terakbar di dunia. Bahkan sekarang para musisi jazz besar dunia melirik Java Jazz sebagai salah satu festival jazz tetap yang harus diikuti. Keberadaannya sudah sejajar meski kalah tua dengan festival jazz bergengsi seperti North Sea Jazz Festival di Belanda dan beberapa festival jazz mapan dan besar lainnya. Musisi Penampil Menurut Peter, tidak berlebihan jika beberapa musisi jazz atau musisi lintasaliran saling berlomba mengikutsertakan namanya dalam Java Jazz 2010. Nama-nama yang sudah pasti bakal memamerkan kebolehannya di antaranya Hubert Laws, Randy Brecker, dan Bill Evans plus dukungan Steve Lukather (gitaris TOTO).
Musik jazz yang juga mengejawantah dalam genre cuban jazz, latin jazz, dan brazilian jazz yang akan ditampikan oleh Arturo O'Farril, Adonis Puentes, Bryan Lynch Latin Jazz Quartet, Emilio Santiago's Pristine Voice, Ivan Lins, dan Hendrik Meurkens Samba Jazz Quartet, juga tak maualpa untuk ikut tampil.
Sedangkan para ksatria jazz Tanah Air juga dipastikan akan diberi kesempatan yang sama dalam ajang tahunan ini. Di antaranya Tohpati, Bubi Chen, Indro Hardjodikoro, Oele Pattiselanno, Jeffrey Tahalele, dan Jakarta Broadway Team.

Selain itu, ada pula Andre Hehanusa, Ligro Trio, Idang Rasjidi, Syaharani, Elfa's Bossas, Aksan dan Titi Sjuman, RAN, Barry Likumahuwa, Soulvibe, Dewa Budjana, Gugun Blues Shelter,Opustre Soul Big Band, Lala Suwages, Ecoutez, Notturno, dan David Manuhutu.
Paul Dankmeyer selaku Direktur Java Jazz 2010 menegaskan, festival tahun ini akan menjelaskan posisi Indonesia dalam khazanah musik jazz dunia, selain menjembabatani musisi jazz dari berbagai latar kebudayaan, bangsa, dan bahasa.

Dalam catatan Paul, Java Jazz telah mendatangkan berbagai pelaku musik jazz, blues dan berbagai genre musik lainnya ke Jakarta untuk menandai festival tersebut semakin berarti dan disegani didunia.

Mencari Kebaikan SBY


Setiap orang punya sisi buruk dan sisi baik. Kita percaya itu. Para pendukung Susilo Bambang Yudhoyono juga (diam-diam) meyakini akan hal ini. Makanya, ketika sebagian besar anggota masyarakat, yang tercerminkan di media massa, (hanya) membicarakan sisi buruknya semata, mereka pun bingung.

Para pendukung SBY, khususnya yang berada di Partai Demokrat, tampaknya semakin bingung ketika para pemuka agama yang sudah sepuh dan sabar dan sudah tidak memiliki syahwat politik, seperti Buya Syafi’i Ma’arif (Muhammadiyah) dan KH Solahudin Wahid (Nahdlatul Ulama), juga mengatakan hal yang sama.

Dalam sebuah forum yang amat bergengsi di kantor pusat PP Muhammadiyah, di Jakarta, dilengkapi oleh para pemuka umat beragama lainnya (Katolik, Kristen Protestan, Hindu dan Budha), para beliau ini mengungkapkan temuan adanya belasan kebohongan rezim SBY (Senin, 10/1).

Apakah ini fair? Apakah mereka (media massa) dan juga tokoh-tokoh keagamaan itu, tidak mau melihat sisi baik Ketua Dewan Pembina DPP Partai Demokrat itu yang layak diberitakan, atau tidak melihat sama sekali?

Mosok sih?

Kita memang harus berimbang, fairness. Media massa, yang bisa membentuk opini publik, lebih-lebih lagi, harus cover both sides, mengangkat berita dari kedua sisi, berimbang. Sebab keseimbangan itu penting untuk menjaga harmoni. Tapi ini memang terori. Pada kenyataannya, sangat sulit dipraktekan. Apalagi dalam hal menjaga keseimbangan berita mengenai SBY dan pemerintahannya.

Wartawan rata-rata mengeluh kesulitan mencari sumber berita yang bisa menyatakan hal positif dari SBY dan pemerintahannya, kecuali dari para anggota kabinet dan Partai Demokrat. Atau dari orang yang terindikasi korupsi tapi tak kunjung disentuh KPK, apalagi lembaga hukum lain.

Itulah sebabnya berita di media massa kita isinya tampak seolah mengritisi pemerintah belaka. Akibatnya, kita yang rakyat biasa jadi tidak punya referensi tentang sisi baik presiden kita yang pandai bikin lagu itu.

Para pengguna teknologi informasi (komputer) yang berjaringan (internet) dan pro-SBY, semula meyakini, di dunia maya, yang tidak terkontaminasi kepentingan pilitik, pasti lebih mudah mencari “kebaikan SBY” untuk disosialisasikan ke masyarakat. Saya juga meyakini akan kejujuran dan ketidak-berpihakan para pengelola jaringan semacam Google yang integritasnya sudah teruji.

Akan tetapi harapan itu ternyata kandas. Sebab, sebagaimana ratusan pendukung SBY, ribuan mahasiswa dan aktivis pergerakan, serta jutaan rakyat Indonesia yang ingin mencari “sisi baik SBY” lewat mesin pencari otomotas yang disediakan jaringan Google dari Amerika Serikat, hasilnya ternyata sungguh mengejutkan.

Ketika mengetik kata kunci “kebaikan SBY”, mesin pencari Google seperti tidak yakin akan pikiran kita yang jernih, yang sungguh-sungguh ingin melihat “kebaikan SBY” untuk kita sebarkan kepada saudara-saudara kita yang hanya tahu “sisi buruk SBY” semata.

Sebab mesin pintar Google, yang bekerja secara otomatis sesuai program itu, ternyata bisa membantah keinginan kita dengan mengatakan, Mungkin maksud Anda adalah: keburukan sby.

Jadi memang susah mencari referensi kebaikan presiden kita yang satu ini.

Kalau sudah begini, siapa yang salah? Kata orang Demokrat, itu bagian dari rekayasa untuk menjelek-jelekan SBY. Busyet!

Sekretaris Kabinet SBY yang bernama Dipo Alam mungkin juga pening seperti kita dalam mencari sisi baik bosnya itu di media massa dan internet. Makanya, gagasan yang muncul kemudian “boikot media massa” yang mengejutkan, bukan hanya kita, tapi mengejutkan dia sendiri.

Beruntung pihak Google memberi dispensasi kepada SBY dengan mengubah metode pencarian, sehingga “pembetulan” tentang “Mungkin maksud Anda adalah: keburukan sby” sirna dari dunia maya.

Tapi persoalan belum selesai. Sebab belum ada jawaban yang pasti buat kita semua: kemana lagi kita mencari informasi “kebaikan SBY”?

sumber : http://www.jpnn.com/

Harga iPad Bakal Turun 100 Dollar AS

produksi Apple itu akan mulai dijual di Amerika Serikat pada 11 Maret mendatang dan di 26 negara lain mulai 25 Maret.
Beberapa keunggulan utama iPad 2 adalah lebih tipis dibandingkan iPhone 4 dan dua kali lebih cepat dari iPad sebelumnya. Selain itu, juga memiliki kamera, memiliki pilihan warna hitam dan putih, serta harga yang sama dengan iPad sebelumnya.
Sebagai konsekuensi dari peluncuran iPad 2, maka harga iPad seri sebelumnya akan jatuh. Menurut situs Dallas Morning News, dari 499 dollar AS, harga iPad kini turun 100 dollar AS menjadi 399 dollar AS. Harga tersebut memang tak murah, tetapi setidaknya banyak orang senang dengan penurunannya.
Sementara iPad 2 diluncurkan, sebenarnya Apple juga telah merencanakan peluncuran iPad 3. Diprediksikan iPad 3 akan diluncurkan musim gugur ini pada bulan September, alias hanya 6 bulan dari sekarang.
Kapan pun iPad 3 diluncurkan, harga iPad dan iPad 2 nantinya diharapkan turun. Beberapa orang mengatakan, pada saat itu harga iPad pertama mungkin sudah bisa menjadi 199 dollar AS, turun 300 dollar AS dari sekarang.
Jika prediksi itu benar, mungkin iPad akan menjadi lebih bisa dijangkau pada akhir tahun ini. Nah, apakah Anda termasuk orang yang menunggu jatuhnya harga iPad? 

sumber : http://tekno.kompas.com