Mengatasi Genitnya Anak di Facebook

Media jejaring sosial, terutama Facebook, semakin akrab dengan segala kalangan, termasuk anak dan remaja. Coba simak saja ungkapan perasaan atau kata-kata yang ditulisakan oleh anak, keponakan, atau adik remaja Anda di Facebook.
Anda akan menemukan dunia anak dan remaja yang begitu "genit" dan kadang tak pernah Anda kira sebelumnya. Orangtua perlu lebih bijak menanggapi kondisi ini, agar mampu menguasai diri dari rasa cemas dan khawatir berlebihan.

Tak salah jika dikatakan, Facebook di Indonesia menjadi fenomena. Data menunjukkan, Indonesia menjadi negara penyumbang akun Facebook ketiga terbesar, setelah AS dan Inggris. Peringkat ini meningkat tajam, karena pada 2009 lalu Indonesia masih berada di peringkat tujuh di dunia. Laporan Kontan menuliskan, Agustus 2010 lalu akun Facebook di Indonesia berjumlah 26 juta.

Bagaimanapun, jangan dulu memandang negatif genitnya Facebook yang sukses mengambil hati anak Anda. Jejaring sosial tetap ada positifnya. Meski banyak orangtua yang mulai resah karena mendapati anaknya mulai berkencan melalui Facebook.
Kuncinya, orangtua tetap perlu bijaksana dan tidak mudah terlalu curiga atau mencemaskan anak-anaknya. Ini karena rasanya hampir mustahil bagi orangtua melarang anak mengakses Facebook..
"Manfaat Facebook sebenarnya cukup banyak bila digunakan untuk hal positif. Kata kunci untuk mengendalikan anak-anak adalah dengan mengalihkan perhatian mereka," papar Rienny Hassan, pengasuh rubrik psikologi Tabloid Nova seperti dikutip Warta Klub Nova.
Mengapa demam Facebook menjadi fenomena kalangan anak dan remaja?
Rienny menjelaskan, anak usia praremaja dan remaja punya kebutuhan besar untuk mengidentifikasikan diri dengan segala hal yang lekat dengan atribut "keremajaan". "Yang teman-temannya lakukan, terasa wajib ia lakukan pula," tambahnya.

Facebook menjadi wadah berekspresi yang digemari anak pemalu. Mereka mendapatkan kompensasi luar biasa dari kontak sosial di dunia maya, karena tanpa bertatap muka, obrolan bisa mengalir lancar. Efeknya, kata Rienny, "cinta maya" mudah sekali bersemi dan menjadi prioritas utama. Kisah cinta di dunia maya ini menggeser kesenangan lain yang lebih sehat dan mendewasakan dalam konteks dunia nyata.

Orangtua menjadi teladan nyata
Menurut Rienny, fenomena Facebook berakar dari pencarian jati diri, di tempat yang salah, pada waktu yang salah, pada orang yang salah. Orangtua perlu menjadi teladan bagi anak agar anak punya keinginan dan aspirasi.

Anak perlu ditanamkan kematangan perilaku untuk lebih menghargai dan peduli pada kenyamanan orang lain. Dengan begitu anak mampu berhenti sejenak memikirkan diri sendiri dan punya keinginan menyenangkan hati orangtua atau orang lain di sekitarnya.
Tanpa kematangan seperti ini, egoisme anak akan tumbuh subur. Dampaknya, anak akan cuek, tetap mempertahankan perilaku dan kebiasaan yang membuat orangtua atau orang lain di sekitarnya tak nyaman.

Rienny menjelaskan, untuk mencetak anak dengan kematangan sikap, orangtua perlu meneladani kejujuran, integritas dalam menjalani hidup, yang merupakan pola ideal untuk diadopsi anak nantinya.
Dengan mengadopsi pola ideal ini, anak mampu menjalani hidup dengan keputusan bertanggung-jawab, termasuk membagi waktu untuk hal yang bermanfaat bagi dirinya.
Rasanya jika anak memiliki perilaku seperti ini, meski candu Facebook tak bisa dihindari, anak masih bisa membatasi dirinya.

Bicara dengan bahasa anak dan ciptakan hubungan nyata
Rienny mengatakan, orangtua akan tetap bijaksana dan tidak "parno" atau mudah curiga dan cemas tanpa alasan jelas, bila orangtua rajin meng-update diri dengan kemajuan teknologi.

"Orangtua perlu tahu apa itu internet, apa yang terjadi di warnet, apa rasanya ber-Facebook-an, sehingga kesenangan dan kenikmatan yang melanda anak, bisa dihayati pula," katanya.

Orangtua juga perlu menggunakan bahasa yang sama dengan anak tentang suatu hal. Cara ini akan membuat anak merasa dipercaya sehingga punya tanggung jawab untuk memelihara kepercayaan dari orangtuanya.

"Berikan juga peluang kepada anak untuk merasakan dan kemudian meyakini bahwa individu punya kebutuhan dasar untuk connected. Terhubung secara nyata dengan individu lain, melalui kontak mata, sentuhan, pelukan, dan belaian kasih dari orang yang menyayanginya," jelas Rienny.

Kesempatan berkomunikasi dan berhubungan langsung dengan anak ini perlu diciptakan orangtua agar anak tak semakin terbenam dalam dunia maya yang hanya menawarkan sentuhan semu dan bukan hubungan yang nyata.

Gunung Merapi Terus Menurun

 Memasuki 2011, fase erupsi Gunung Merapi berakhir. Seismograf di Kantor Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kegunungapian (BPPTK) Yogyakarta, dalam beberapa hari terakhir hingga, Ahad (2/1) bergerak stabil dan cenderung membentuk garis lurus.

Hal itu menandakan aktivitas vulkanik di puncak Merapi semakin menurun. Hampir tidak ada lagi gempa vulkanik ataupun guguran material dari puncak Merapi. Sedangkan dari pengamatan visual, di puncak kawah Merapi juga sudah tidak lagi terlihat adanya kubah lava.

Ini menandakan tidak ada lagi pergerakan magma dari perut bumi menuju ke kawah. Kini, sejak beberapa waktu lalu, status Gunung Merapi telah turun, dari siaga menjadi waspada.

sumber : http://berita.liputan6.com

Bersih Justru Mendatangkan Penyakit

Menurut penelitian University of Michigan School of Public Health, anak muda yang terlalu sering menggunakan sabun antibakteri mengandung triclosan bisa jadi malah menderita lebih banyak alergi.
Triclosan adalah senyawa kimia yang digunakan secara luas dalam produk seperti sabun antibakteri dan odol. Sebenarnya bahan kimia ini berada dalam golongan bahan yang merusak lingkungan—disebut endrocrine-disrupting compounds (EDCs)—yang dipercaya memiliki akibat negatif terhadap kesehatan manusia dengan cara meniru atau memengaruhi hormon.
Peneliti juga menemukan bahwa orang di bawah 18 tahun dengan tingkat ekspos tricosan yang lebih tinggi cenderung lebih sering dilaporkan mengalami alergi dan hay fever. Kini mulai dikhawatirkan bahwa EDCs ini berbahaya terhadap manusia pada tingkat rendah.
“Penemuan triclosan dalam kelompok umur yang lebih muda mendukung ‘hygiene hypothesis’ yang berarti hidup dalam lingkungan yang amat bersih dan higienis bisa memengaruhi ekspos terhadap mikro organisme yang penting bagi pertumbuhan sistem imunitas,” ujar Allison Aiello, associate professor pada U-M School of Public Health dan peneliti utama jurusan ini.
Sebagai agen antimikroba yang banyak ditemukan di banyak produk rumah tangga, triclosan bisa jadi memainkan peran dalam mengubah mikro organisme yang memapar kita dengan suatu cara yang justru memengaruhi perkembangan sistem imunitas kita.

Bahaya Sinar Laser

Free Image Hosting at www.ImageShack.us
Sinar laser yang mengganggu pemain Indonesia membuat wasit terpaksa menghentikan sementara pertandingan pertama final Piala AFF 2010, Minggu (26/12), antara Malaysia melawan Indonesia. Laser apakah itu? Berbahayakah?
Sinar laser berbeda dengan sinar biasa. Sinar laser itu cuma punya panjang gelombang warna tertentu. Dengan kata lain, cuma punya 1 warna. Sinar laser juga koheren, setiap fotonnya bergerak bersamaan dengan foton lainnya. Sifat lain yang membedakan dengan sinar lainnya adalah sinar laser tidak tersebar, tapi memancar sempit pada satu arah dengan kuat.
Karena pancarannya yang kuat itulah, sinar laser yang dipancarkan dari bangku penonton bisa sampai ke wajah Markus Haris Maulana, penjaga gawang utama tim nasional Indonesia, di lapangan. Sinar berwarna hijau itu beberapa kali terlihat jelas di wajah Markus saat bola mati di sekitar gawangnya.
Sinar laser itu diperkirakan berasal dari pena laser yang biasa digunakan untuk membantu pembicara dalam presentasi. Pena laser umumnya berwarna merah atau hijau. Menurut Bambang Widyatmoko, Kepala Puslit Fisika LIPI, sinar warna hijau memiliki intentsitas lebih tinggi daripada warna merah. "Sinar laser hijau yang berasal dari alat pointer memiliki diameter kecil, sehingga menyilaukan mata," kata Bambang kepada mediaindonesia.com. Selain itu, sinar hijau bisa mencapai jarak 30 hingga 50 meter.
Tingkat bahaya yang dihasilkan oleh sinar laser tersebut harus diketahui lebih lanjut dengan mengukur daya yang dihasilkannya. Umumnya, pena laser hanya berdaya 1-5 mW, sehingga aman digunakan.
Laser memiliki 4 kelas berkaitan dengan tingkat bahayanya. Kelas 1 adalah tingkat aman, karena sinar yang diproduksi berada dalam tempat yang tertutup. Contohnya adalah pemutar CD atau DVD. Kelas berikutnya, kelas 1M, juga aman kecuali saat melewati alat pembesar seperti mikroskop dan teleskop.
Kelas 2 adalah tingkat aman dalam penggunaan normal. Kedipan mata dapat membatasi pencahayaan hingga tidak lebih dari 0,25 detik. Pencahayaan sengaja dengan terus-menerus dapat membuat kerusakan mata. Kelas 2M juga masih tingkat aman selama tidak melewati alat pembesar.
Kelas berikutnya, kelas 3R adalah laser yang harus ditangani dengan hati-hati. Selanjutnya, kelas 3B merupakan laser yang berbahaya jika mata terpapar secara langung. Namun, kalau laser masih harus melewati penghalang, seperti kertas, laser kelas ini tidak berbahaya. Perangkat dengan label kelas 3B harus dilengkapi dengan sakelar dan kunci pengaman.
Kelas terakhir, kelas 4 dapat membakar kulit dan merusak mata secara permanen jika terpapar langsung. laser kelas ini juga membakar material yang mudah terbakar. Laser kelas 4 harus dilengkapi dengan sakelar dan kunci pengaman. Sebagian besar laser di kelas ini digunakan untuk hiburan, industri, sains, militer, dan medis.
Laser sendiri merupakan singkatan dari Light Amplification by Stimulated Emission of Radiation. Cahaya yang dimaksud adalah radiasi elektromagnetik dari berbagai frekuensi, yang terlihat maupun tidak terlihat.
Laser mulai diperkenalkan pada 1960 oleh Theodore Maiman meskipun penelitian tentang laser telah dilakukan beberapa tahun sebelumnya. Kini, laser dimanfaatkan untuk berbagai hal, seperti kepentingan medis, elektronik, teknologi, militer, dan produk-produk komersial... serta sepak bola.

sumber : http://nationalgeographic.co.id/